Skip to content
November 2, 2016 / rudolph30

Kakek Pisang

Saya sudah sering melewati jalan raya ini. Jl. Gunung Latimojong tepatnya. Dan sudah beberapa kali juga melihat bahwasanya di trotoar jalan ini, ada sesuatu yang tidak biasa, menetap dengan becak tuanya, seorang kakek tua. Saya menyebutnya Kakek Pisang.

11509

Pertama kali melihatnya, saya hanya bisa bilang dia adalah kakek yang luar biasa. Mencari penghidupan bukan dengan memelas meminta-minta melainkan bertaruh peluh berjualan pisang. Berpuluh-puluh sisir, jenis Pisang Mas teronggok di becaknya yang sekarang lebih mirip dengan gerobak reyok. Berbaur sudah, pisang yang segar dan yang busuk. Terpanggang panasnya matahari, terbaikan kendaraan yang berlalu lalang. Sementara si Kakek, duduk mengipas-ngipasi dirinya dengan selembar kardus. Menunggu pembeli yang luluh tanpa mengeluh.

Pertemuan berikutnya masih ditempat yang sama, hanya saja kali ini saya berani lebih dekat. Saya ingin tahu, riwayat Kakek ini. Saat itu, beliau berbaring diatas kardus di trotoar jalan. Bertelanjang dada, dengan perut yang membusung. Kulitnya menghitam, hangus tersengat matahari. Hanya bagian pahanya saja yang terlindungi, tertutup celana kusam yang terlihat seperti tidak pernah dicuci. Beberapa luka borok kecil bersarang di betisnya. Lalat-lalat yang berasal dari selokan disisi pembaringannya, menyeruak. Hinggap di luka, hinggap di pisang busuk. Menampakkan kejijikan buat orang awam. Tetapi justru mengetuk pintu hati orang-orang yang terlahir dengan budi.

Kuperhatikan becak gerobaknya. Nampak lapuk terlalu goyah menanggung beban bertandan-tandan pisang setiap harinya. Juga sesak, menampung segala macam benda yang terlihat seperti, maaf _ sampah. Terbungkus dalam kantung-kantung plastik tua. Entah apa isinya.

Beliau akhirnya menyadari kehadiranku. Sayapun yang sejak tadi terenyak menyaksikan keadaannya, sedikit terkaget dan berujung salah tingkah. Beliau bangkit berdiri dan tanpa ada kata, langsung mengambil sehelai kantung plastik. Si Kakek berpikir saya ingin membeli pisangnya. Segera saja kuiyakan harapannya.

“Ini pisang apa daeng?”

Si Kakek bungkam. Kutanya sekali lagi, sambil tangan ini menjamah, memilah-milah pisang terbaik.

Unti apa anne daeng?”

Beliau masih saja terdiam.

Dugaanku Kakek ini bisu. Saya terbawa penasaran. Kutanya lagi…

“Berapa harganya kalau yang ini?”

Bukannya menjawab lisan, beliau malah mengangkat telapak tangannya, dihadapkan kepadaku. Sebagai jawaban bahwa harganya lima ribu rupiah. Saya semakin yakin kalau si Kakek tidak bisa bicara. kucoba memancingnya lagi…

“Tinggal dimana ki daeng?”
“Dimana ki ambil pisang?”
“Pernah ki kuliat dikerumuni orang-orang yang bertanya sama kita. Kita ingat ji?”

Yah… Ada suatu waktu, di pertemuan entah keberapa, kulihat si Kakek dikelilingi oleh paling tidak 4 bapak-bapak. Masing-masing memegang kertas, memandangnya dengan raut wajah mereka kala itu seperti sedang berpikir. Sementara si Kakek nampak dijadikan sebagai seorang “pencerah” dengan segala tingkah lakunya. Dugaanku saat itu, mereka sedang mendiskusikan ramalan-ramalan togel yang ada di kertas itu. Meminta si Kakek memberikan gambaran, nomor berapa yang kelak akan keluar sebagai nomor lotre. Tapi masa iya beliau begitu…

Hufft!

Dan sepertinya dugaan itu akan terus berlanjut sebagai perkiraan semata. Si Kakek tak kunjung menjawab satupun pertanyaanku. Sedikit kesal juga, tapi bagaimana lagi, saya tidak mau memaksakan. Siapa tau kakeknya memang benar-benar bisu. Dosalah saya jika bertanya terlalu banyak…

Akhir dari pertemuan ini menjadi misteri. Tak satupun info yang berhasil ku-ulik. Saya menyerah untuk bertanya lagi. Kusodorkan selembar uang lima ribuan sembari memperhatikan raut polosnya yang mengeriput. Tak terlintas sedikitpun ekspresi keluh di wajahnya, menjalani kehidupan yang super kejam ini. Menjadi pedagang pisang dengan segala kemirisan. Sang Kakek Pisang!

April 27, 2016 / rudolph30

Kutitipkan Anakku dalam Islam

titipan

sumber: google

“TERLAMBAT”

Adalah kata yang tepat untuk diriku saat ini…

Semuanya telah terjadi. Terlanjur terjebak dalam lingkaran hidup yang salah. Kehidupan penuh lara yang kupilih sendiri tanpa pikir panjang. Bodoh memang, terperangkap dosa demi sesuatu yang mempesona dan ternyata fana. Terlena oleh cinta lahir dan batiniah. Terpedaya oleh janji manis yang membutakan segalanya. Yang pada akhirnya membuat tubuh ini meringkuk tak mampu berkata-kata. Dihantam penyesalan bertubi-tubi.

Tak seharipun kulalui tanpa tangisan. Tak seharipun kulalui tanpa lamunan dan renungan. Memikirkan diri ini yang seperti kehilangan cahaya. Hina, dina dan sama sekali tak berharga. Gelar yang pantas disematkan pada diri ini atas semua hal yang telah terjadi.

~ Aku dikucilkan kawan sebaya!

~ Aku dibuang sanak saudara!

~ Aku dikutuk ibunda!

~ Aku hidup tanpa agama!

Tak tahu setan apa yang telah merasukiku sehingga tak bisa lagi membedakan mana niat mulia mana hawa nafsu. Teman-teman di sekitar rumah dan tempat kerja, yang harusnya kujadikan sandaran penambah semangat di masa suramku, kini menghilang satu persatu. Semuanya karena kearogananku, kesombonganku. Tiada lagi yang sudi membantu, bukan karena mereka yang tega tetapi diri ini yang terlalu angkuh, tak berharap bantuan. Lupa diri, bahwa siapa yang berada di garda depan ketika cobaan menimpaku. Teman-teman…

Hanya suamiku saja yang setia mendampingiku sampai akhir. Lelaki yang begitu mencintaiku, melindungiku. Sosok yang membuatku bertahan hidup sampai detik ini. Tetapi semuanya berbanding terbalik. Karena cintaku pula pada dirinya, mengantarkanku pada jurang pemisah keluarga. Tak ada yang merestuiku. Tak ada yang setuju jika aku dan dia bersatu. Disebabkan oleh hal klasik yang telah membunuh ribuan pasangan di dunia ini. Perbedaan agama.

Ibuku adalah orang yang paling melarang hubungan ini. Beratus-ratus nasehat telah diamanatkan. Berpuluh-puluh cara ditempuh olehnya demi menghindarkanku dari koneksi haram ini, termasuk menjodohkanku dengan orang pilihannya. Namun tindakanku terlanjur mendahului segalanya. Aku tetap memilih orang yang kucintai. Menikah diatas altar, diberkati seorang pendeta, hanya disaksikan oleh keluarga suamiku. Sejak saat itulah, aku menjadi seorang yang terbuang. Seakan dihapus dari silsilah keluarga. Ibuku bahkan mengutukku dengan ucapan yang luar biasa kejamnya. Katanya, apa yang telah kulakukan ini, sama saja menyirami kuburnya dengan air panas. Mendidih terus menerus. Sungguh betapa besar dosaku ketika mendengarnya.

Wajar jika Ibuku semarah itu. Beliau adalah guru mengaji. Separuh umurnya diabdikan untuk mengajar anak-anak baca tulis Al Quran, termasuk diriku. Sayangnya ironis, beliau tak berhasil meneguhkanku untuk berada di jalan Islam. Berkali-kali kuyakinkan, aku tak pindah agama, aku tetap hamba Allah. Pernikahan itu hanya simbolik. Kami berdua akan hidup dengan keyakinan kita masing-masing. Tetapi Ibuku tetap menolak. Baginya, pernikahan itu memang bukan memurtadkan tetapi justru jalan menuju kemurtad-an.

Sekarang, Ibuku benar dan aku tak mempercayainya. Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Keluarga suamiku yang kuanggap sebagai penyelamat, diam-diam menyeretku dalam kristenisasi. Menunggu diriku saat berada di titik jenuh, menawarkan segala bantuan sambil menggerocokiku dengan ayat-ayat Matius tentang keesaan Tuhan. Potongan-potongan Kolose bahwa Kristen adalah benar. Dan meyakinkan bahwa pernikahan yang pernah kami lakukan resmi dan suci sesuai dengan Ajaran Surat Korintus.

Untungnya suamiku tidak begitu menuntut sehingga sampai saat ini, aku belum menyeberang sepenuhnya, namun tetap saja, aku hanya seorang yang tersesat. Enggan masuk Kristen, tidak menjalankan Islam. Rasanya tak ada bedanya, aku tetap orang hina. Menderita di dunia dan menyesal di akhirat. Aku takut ketika ajal menjemputku tak lama lagi, aku akan dimakamkan dengan cara apa. Dan lebih takut lagi karena tak bisa memperbaiki diri di penghujung usia.

Siapapun engkau yang mendapat dan membaca surat ini, aku berharap satu permintaan kecil. Disepeninggal aku nanti, tolong jaga dua orang anakku. Dua malaikat kecil, cahaya hidupku. Kutitipkan mereka dalam Islam. Kembalikan mereka pada keluargaku. Biarkan mereka berdua menjadi ahli ibadah. Yang kelak bisa meluluhkan hati Ibuku bahwa keturunanku sesuai keinginannya. Yang kelak akan mendoakanku dan menjadi penerang dalam kegelapan. Aku sangat berharap anak saleh yang mendoakan ibu bapaknya.

 

Fatimah tertegun. Buru-buru menyembunyikan surat yang ditemukannya disisi lemari ini dari pandangan orang-orang yang datang melayat. Kemudian berjalan senormal mungkin, keluar dari rumah. Pikirannya kocar-kacir. Dirinya-lah yang menemukan surat itu. Dirinya-lah yang ditakdirkan mengabulkan wasiat terakhir sang mendiang. Mengislamkan kedua anaknya. Ini adalah amanat yang luar biasa, yang dibebankan padanya secara mendadak. Fatimah menghela nafas panjang. Kembali masuk kedalam rumah. Menyorot semua orang dalam ruangan itu, mencari dua anak yang dimaksud.

“Ya Allah, bagaimana ini… Tolonglah aku…”

Hati Fatimah langsung mencelos ketika mendapati dua anak itu. Duduk berdampingan diimpit oleh Ayahnya. Kalung Rosario menggantung di lehernya.

***

Maret 23, 2016 / rudolph30

Rumah No. 54

rumah

Pukul 10 pagi atau dua jam lagi, tepat tengah hari. Namun cahaya matahari tidak cukup kuat merambat masuk menembus jendela sebuah rumah. Ada sehelai gorden panjang yang menghalangi, yang diatur sedemikian rupa sehingga tak satupun kisi-kisi tak terlindungi. Meredupkan seisi kamar. Apalagi ditambah dengan lampu yang sengaja tak dinyalakan dan pendingin ruangan yang disetel di suhu terendah. Membuat kondisi kamar paradoks dengan dunia diluar sana. Sebuah keadaan yang begitu terorganisir, demi melindungi “sang sutradara”, seorang anak laki-laki yang masih terlelap tidur, tersembunyi di bawah selimut tebal nan hangat, hanya kepalanya saja yang mencuat keluar. Menganggap malam seharusnya lebih panjang dari biasanya.

Dan semuanya mendadak buyar tatkala pintu kamar berderit terbuka. Seseorang telah berdiri di depan pintu. Yang kemudian berjalan perlahan, masuk menuju jendela. Membuka gorden dengan satu tarikan. Membiarkan cahaya matahari akhirnya menerobos masuk, membuat anak laki-laki yang terbaring itu mengernyit, berbalik badan dan semakin bersemayam dalam selimutnya. Seseorang yang membuka pintu itu tersenyum tipis.

“Rangga… Bangun nak…” ujarnya penuh sayang. Duduk di tepi tempat tidur, sembari perlahan menarik selimut anaknya.

“Masih ngantuk Ayah…” kata Rangga polos. “Lagipula, ini kan hari minggu…”

Sang Ayah kembali tersenyum. Semakin merapat ke tubuh anaknya.

“Hari minggu lebih enak loh main diluar sana…”

“Ayah… Rangga masih mau tidur…” gerutunya.

“Ya sudah. Rangga pilih mana, lanjut tidur atau mau dengar cerita Ayah? Cerita masa muda Ayah. Waktu itu Ayah juga suka sekali hari minggu, tapi Ayah gak mau menghabiskan hari minggu dengan hanya tidur-tidur malas seperti kamu ini. Ayah selalu kumpul bareng teman-teman. Main, bercanda, seru-seruan. Dan tahu gak Rangga, dimana kami selalu ngumpul?”

Rangga membuka selimut yang menutup kepalanya, memandang ayahnya. Rasa ngantuknya mulai hilang, terjebak penasaran. Ayahnya sudah tahu kelemahannya. Rangga paling tidak bisa menolak ketika Ayahnya mulai bercerita.

“Dimana, Yah?”

Sang ayah membelai kepala Rangga dan kembali tersenyum penuh sayang.

“Sebuah rumah yang luar biasa, Rangga. Sebuah rumah yang begitu penuh kisah. Kami menyebutnya dengan sebutan Rumah Nomor Lima Empat. Rangga mau dengar, gak?”

“Mau mau, yah..” ucapnya bergairah.

Sang Ayah mengambil remote AC yang tergeletak diatas bufet. Mematikan pendingin ruangan. Kemudian dengan sebuah tarikan nafas penuh kerinduan, sang Ayah mulai bercerita.

“Sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu umur Ayah, 24 tahun. Dan Ayah masih tinggal di Makassar. Rangga tahu kan dimana Makassar?”

“Tau lah, Yah. Kampung nenek…”

“Anak pintar. Nah awalnya, hari minggu Ayah juga sangat membosankan. Tidur sepanjang hari. Bangun kalau mau makan saja, habis itu tidur lagi. Tetapi semenjak mengenal mereka di rumah itu, tiap hari minggu, selalu berlalu dengan keseruan.”

“Ayah, emangnya di rumah itu ada apa?” tanya Rangga polos. Sang Ayah memalingkan pandangannya lurus kedepan. Menatap kosong, seolah-olah rumah yang akan diceritakannya ini, berdiri kokoh dihadapannya.

rumah

“Mmm… Rumahnya sih sederhana. Bangunannya mulai lapuk dimakan usia. Perabotan didalamnya pun seadanya. Di halamannya ada pohon rambutan yang hanya berbuah di bulan Januari. Ayah sering memanjatnya, Ayah paling jago memanjat. Terus, Rumah ini juga dihuni oleh seekor kucing bernama… tunggu dulu! Ayah lupa namanya.” sejenak Ayah Rangga menjeda. Berpikir mengingat-ingat. “Ah iya… namanya Alex. Kucing yang lucu. Tapi sayang, kucing itu tak pernah berhasil disentuh. Terlalu liar. Eh, tahu gak Rangga, rumah itu ada hantunya juga loh. Hantu Ibu Sapu-Sapu namanya. Dia tinggal di Pohon Kelor yang ada di belakang rumah.”

Rangga merapatkan diri. Wajahnya hanya berjarak sekitar 10 cm dari wajah Ayahnya.

“Hantu, Yah? Ayah gak takut…?”

“Hantunya baik, nak…” jawabnya dengan senyum. “Kata teman-teman Ayah dulu, dia menyapu lantai rumah. Makanya kami menyebutnya Ibu Sapu-Sapu. Ayah sendiri sih tidak pernah melihatnya.”

“Tapi, dia tetap saja hantu… Kalau Rangga jadi Ayah, aku gak mau ke rumah itu!”

Sang Ayah tersenyum lagi. Merangkul kepala anaknya, lalu mengecup ubun-ubunnya.

“Anak laki-laki gak boleh takut. Rangga… bukan hantu ataupun kucing tadi yang membuat rumah itu menjadi luar biasa. Tetapi ada kekuatan lain yang membuat rumah yang sederhana itu menjadi sangat hidup. Rangga tau gak apa itu? Yah… kekuatan persahabatan.”

“Kekuatan persahabatan…?”

“Iya. Ayah beruntung punya teman-teman seperti mereka. Orang-orang luar biasa yang seminggu saja tak berjumpa mereka, sudah kangen bukan main. Kalau Ayah bersama mereka, Ayah lupa usia. Bercanda, ketawa-ketiwi seperti anak-anak. Mereka awalnya teman-teman badminton Ayah, tetapi semakin akrab bak saudara. Mereka semua juga orang-orang yang hebat, orang yang asyik. Ayah betah seharian bersama mereka di rumah itu. Tidur bareng. Shalat bareng. Jalan-jalan bareng. Makan ada yang masak-in. Ada-ada saja yang menghibur, sehingga hidup seakan akan ringan tanpa beban. Akhh… Ayah benar-benar merindukan mereka. Rindu kehangatan Rumah Nomor Lima Empat itu.”

“Rangga…, Ayah ingin kamu juga seperti itu. Punya banyak teman. Punya hari minggu yang menyenangkan. Punya persahabatan yang melebihi persahabatan Ayah. Rangga jangan khawatir, Rangga pasti bisa punya teman-teman yang luar biasa pula. Asalkan Rangga tidak boleh sombong. Tidak boleh tinggi hati. Tidak mudah tersinggung. Saling mengerti satu sama lain. Rangga juga gak boleh jadi anak yang perhitungan. Rangga harus jadi anak baik di hadapan teman-teman Rangga. Bisa, kan…?”

“Bisa dong Ayah… Eh Yah, Siapa mereka itu? Dimana mereka sekarang?”

Sang Ayah menunduk kemudian merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan handphone-nya, menekan folder galeri foto. Rangga bangkit, duduk menyaksikan tepat di sisi ayahnya.

“Ini Ayah dan inilah mereka semua…”

ngumpul

“Sebagian dari mereka masih tinggal di Makassar. Mereka juga sudah berkeluarga. Mereka juga pastinya sudah punya anak yang sama manisnya dengan Rangga Ayah ini. Nanti kalau ada waktu, kita ke Makassar. Jalan-jalan ke rumah nenek, sekalian bertemu dengan teman-teman Ayah.”

“Yeahhhhh…” seru Rangga bahagia. “Ayah, Rumah nomor Lima Empat, masih adakah disana?”

“Tentu. Rumah nomor Lima Empat itu masih ada. Sudah direnovasi. Karena rumah itu adalah rumah turun temurun keluarga kita. Kelak ada masanya, anak Ayah, Rangga Yudhistira Satriawan, akan menempati rumah itu. Kamu mau, kan…?”

“Iya, tapi setelah hantunya benar-benar pergi.”

Sang Ayah kembali tersenyum bahagia. Memeluk anaknya penuh kasih sayang. Dan pukul sepuluh pagi itu berlalu dengan nostalgia, seakan-akan kamar itu baru saja disulap jadi Rumah No. 54.

 

(Rangkas Bitung, Kediaman Wawan Satriawan, 22 Maret 2026)

Februari 3, 2016 / rudolph30

Ketika Pergi Untuk Mas Gagah

Tanggal 28 Januari 2016 atau lewat seminggu setelah pemutaran perdana-nya, akhirnya baru kesampaian untuk menonton film ini. Sebuah film Indonesia bernuansa islam, yang menurut saya cukup fenomenal. Hal itu terbukti. Di tujuh hari penayangannya, beranda bioskop masih dihiasi dengan antrean panjang dan gemuruh orang berebut tiket. Saya salah satu diantaranya.

Sebenarnya, berencana nonton film ini tepat di hari pertama launching-nya. Tetapi apadaya, Makassar diguyur hujan seharian pada saat itu. Ditambah tak punya jas hujan, kemudian ban motor plontos yang kalau dipaksakan jalan di aspal basah, yang ada malah beralih tujuan. Akh! Ku-urungkan niatku. Kubiarkan berlalu satu minggu, siapa tahu lebih mudah, tak perlu lagi berimpit-impitan membeli tiket, tak perlu lagi kebagian jadwal penayangan paling akhir atau bahkan tak perlu lagi kebagian kursi paling depan yang membuat leher kaku, mendongak keatas terlalu lama. Dan alhasil, kenyataan terjadi justru sebaliknya.

Mood langsung down tatkala kudorong pintu masuk bioskop itu. Bukan aroma badan Satpam yang berdiri seharian di sisi pintu sebagai penyebabnya, tetapi hiruk pikuk manusia yang entah darimana asalnya, sudah ada pasca maghrib saat itu. Ada banyak pasangan sejoli yang bolak-balik tak jelas. Adapula sekumpulan ibu-ibu berjilbab dengan pakaian mereka yang seragam, berfoto-foto cantik sebelum nonton, sambil memegang selembar banner besar bertulisakan nama majelis taklim mereka. Dan ada yang lebih parah, remaja-remaja berjanggut yang bergantian selfie dibelakang poster film, mencari angle yang paling keren dan saya yakin sebentar lagi diunggahnya di media sosial.

Tanpa buang waktu, segera kuambil tempat di antrean yang meng-ular. Menunggu beberapa menit menanti giliran. Dan yang kudapat adalah penayangan terakhir pukul 21:10, deretan kursi “J”, paling ujung pula. Heuhhhh… tetap bersyukur, karena yang penting kesampaian juga nonton film-nya.

Eh maaf… Dari tadi bercerita tapi belum beritahu film apa yang saya maksudkan ini…

Judulnya “Ketika Mas Gagah Pergi”. Ini film Indonesia dan garis bawahnya adalah KEREN BANGET. Ya beberapa dari kita memang pesimis dengan film buatan dalam negeri yang ide ceritanya kalau bukan horor seks yah komedi yang dibuat-buat. Tetapi menurut saya tidak semuanya begitu, khususnya yang film bernuansa islami. Selain bisa jadi hiburan, juga bisa dijadikan pelajaran, terutama recovery akhlak untuk hidup yang lebih agamis. Dan dalam film KMGP ini, tersirat hal itu.

Terasa seperti dihipnotis ketika pertama kali melihat trailernya terpampang di beranda facebook beberapa minggu sebelumnya. Ada semacam magnet yang menarik batin dan mengisiki kata-kata “Harus nonton! Harus nonton!”. Lalu tanpa pikir panjang, ku-iyakan bisikan itu. Segera kubuat reminder di Handphone agar jangan sampai lupa dan ketinggalan bahwa pada tanggal tersebut, film keren Ketika Mas Gagah Pergi, resmi ditayangkan.

Ketika Mas Gagah Pergi adalah film yang diadaptasi langsung dari novel dengan judul yang sama karya Helvy Tiana Rosa. Menceritakan sosok pemuda yang mendapat hidayah ketika mengunjungi Ternate, menjadi pemuda yang alim dan fanatik terhadap Islam. Mas Gagah-lah namanya. Perjuangan yang sulit di awal-awal hijrahnya. Menceritakan bagaimana keberhasilannya mengubah lingkungan keluarga, kampus sampai perkampungan preman ikut dalam ajaran Islam. Ada banyak nilai-nilai agama yang disampaikan, mulai dari keikhlasan berdakwah, keteguhan hati berada dijalan-Nya sampai toleransi antar umat beragama. Kurang lebih seperti itulah alur cerita yang saya baca, hasil searching di internet. Novelnya sudah gak ada di Gramedia saat itu. Padahal berniat membacanya sesaat sebelum jam masuk penayangan. Hitung-hitung menutupi jeda waktu menunggu yang luar biasa membosankan.

Update status dulu, biar orang-orang pada bertanya "Tiket film apa tuh...?"

Update status dulu, biar orang-orang yang lihat pada bertanya “Tiket film apa tuh…?”

Pendek cerita, saya sudah duduk di kursi bagian saya. Mood sudah kembali semangat karena filmnya benar-benar menginspirasi. Walaupun beberapa kali menggerutu kesal, karena banyak orang yang melintas di depan layar mengganggu kenyamanan. Saya tak ingin kehilangan satu adegan pun dari film ini. Gemes juga melihat manusia-manusia yang terlambat datang, yang meraba-raba di kegelapan mencari tempat duduknya. Apalagi ada gerombolan terakhir yang sudah sekitar satu jam film diputar, baru beriringan masuk, melangkah-melangkah manis, sama sekali tak merasa bersalah. Duduk bersamaan di deretan kursi “L”, dua baris didepanku. Ingin rasanya melempari mereka jam dinding satu persatu sambil teriak “Jam berapa ini?!!!!!”

Astagfirullah al adzim…

salah satu cuplikan paling "wah"

salah satu cuplikan film KMGP yang paling “wah”.

Film pun berakhir. Puas dan sama sekali gak menyesal menonton film ini. Dan semakin bergairah ketika tahu bahwa film ini ada sekuelnya, yang berarti masih ada hal menarik yang akan diceritakan selanjutnya. Ahh…saya bangkit dari kursi dengan senyuman puas. Dan mendadak semakin puas ketika disaat lampu teater sudah kembali menyala, ada sosok tak asing telah berdiri dihadapanku. Yah… “Mas Gagah”nya ikut nonton di bioskop ini.

Senangnya bukan main. Rupanya gerombolan menjengkelkan yang datang telat tadi adalah rombongan Hamas Syahid (pemeran Mas Gagah) dan keluarganya. Kini, keterlambatannya tak lagi kupermasalahkan. Ada alasan masuk akal dibalik hal itu. You know-lah, apa jadinya ketika publik figur macam dia, datang lebih awal. Bakal rusuh satu studio minta foto.

Refleks saja kujabat tangannya mendahului orang-orang yang telah siap menerkam seperti kucing ketiban ikan. Setelah itu kalah saing, terdorong kebelakang oleh kerumunan dan tak bisa foto bersama. Ya sudah…. setidaknya bisa menjabat tangannya. Sembari berpikir apakah Hamas Syahid sesuai akhlak Mas Gagah yang diperankannya. Karena jujur saja, saya terkesima dengan Tokoh Mas Gagah dan ingin menjadi sepertinya. Meskipun ada segudang perbedaan mencolok antara saya dan Mas Gagah tentunya.

Dia tampan, saya gak banget.

Dia berani, saya sebaliknya.

Dia Kakak yang paling baik, saya Kakak yang paling Monster.

Dia ahli ibadah, saya….

Hmm… berharap dapat hidayah juga. Aaamiiin.

Entah mengapa, setelah menonton film Ketika Mas Gagah Pergi, rasanya seperti ada yang menampar wajah ini berkali-kali dan saya hanya terdiam tak mampu membalas. Saya tahu ini adalah teguran, bahwa diri ini seharusnya malu. Malu atas kebanggaan luar biasa yang kutanamkan selama ini. Merasa menjadi orang yang paling baik tanpa mempertimbangkan sudah berapa banyak dosa yang kulakukan tanpa kusadari. Malu karena benar-benar belum mampu berada di jalan lurus akibat terdoktrin ungkapan “semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula ujiannya”. Padahal ungkapan ini telah dilunakkan oleh kalimat “Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan makhluknya”. Lantas, mengapa diri ini masih ragu untuk berada di jalan lurus? 😥

Pokoknya harus berubah! Gak usah mendadak seperti Mas Gagah, perlahan saja yang penting berubah ke arah yang lebih baik. Dan semuanya tentu dari kemauan diri kita sendiri. Jadi, buat Hamas Syahid yang semoga sesuai dengan Tokoh Mas Gagah, selama ahklaknya sesuai dengan ajaran Nabi, rasanya tak adalah salahnya mengagumi…

Bismillah!

Hamas syahid

Foto ini diambil langsung dari kamera HP saya

www.flp.or.id

www.kmgpthemovie.com

 

 

September 23, 2015 / rudolph30

Boneka Tali

Ada suara ceria yang baru saja mengekik dari balik panggung. Dia baru saja tertawa lantang penuh kepuasan. Yap, opera boneka yang baru saja dipertontonkannya sepertinya telah berhasil. Sang pawang Marionet ini telah sukses membuat penontonnya terlena dalam renungan. Karena sungguh, sandiwara boneka yang ditampilkannya begitu pilu, begitu menusuk. Sebuah cerita sandiwara dengan tema pengkhianatan. Dan Master Puppet ini ahlinya.

Gerakan jari-jemarinya begitu kuasa mengatur tali yang mengikat segala sendi-sendi Sang Boneka. Menggerakkannya ke segala arah sesuai kehendaknya. Kendatipun Sang Boneka acap kali nampak tak mau ikut perintah, namun tetap saja naas karena kekangan tali temali begitu kuat menjerat. Sang Boneka nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa bertindak palsu di depan penonton yang menyaksikannya.

Ini adalah pertama kalinya Sang Boneka membenci pementasan. Sebelumnya, Sang Boneka nampak ikhlas berlenggak-lenggok diatas teater penuh kebanggaan. Yang membuat penonton terhibur, tertawa terbahak-bahak. Yang berimbas pula pada dirinya yang semakin dikagumi dan dinantikan lagi aksinya. Sayangnya, tema cerita sang Maestro kali ini tidak sesuai keinginannya. Berubah 180 derajat. Sang Boneka tak tega melihat penontonnya terhanyut dalam kesedihan. Sang Boneka tak mau diperdaya oleh pengendalinya yang justru tertawa karena persepsinya sendiri, ketika melihat penonton terbawa, maka ini adalah kesuksesan opera.

Apalah daya, pagelaran sudah terlanjur dipentaskan. Sang Pengendali Boneka malam ini dipastikan tidur pulas dengan segala kesuksesannya. Sementara Sang Boneka tergeletak tak berdaya didalam kotak kayu kecil disudut ruangan. Menantikan esok hari apakah masih ada penonton setia yang menantikan aksi kocaknya? Menantikan esok hari untuk menjelaskan bahwa pementasan terakhir yang ditampilkannya adalah bukan dirinya. Sekaligus membohongi dirinya sendiri bahwa dia adalah boneka.

Tetapi untunglah, masih ada yang simpati pada nasib boneka tali ini. Rupanya, tak semua penonton yang benar-benar terhipnotis. Masih ada yang menyadari kesewenang-wenangan sang Pengendali Boneka. Ada yang harus menghancurkan tirani dan mengajarkan pada generasi berikutnya bahwa terkadang Boneka bukan alat tetapi Boneka adalah teman.

images

Tak peduli konsekuensi yang bakal terjadi. Dan tak begitu pula mengkhawatirkan bagaimana sosok dan dominasi Pengendali Boneka yang akan dihadapi ini. Apakah selihai “Hama”, tokoh pengendali darah dalam serial animasi Avatar, yang menjadikan manusia sebagai boneka dengan blood bendernya? Atau mungkin sekejam “Sasori”, tokoh Akatsuki dalam serial animasi Naruto, yang mengendalikan manusia dengan tali-tali cakranya? Intinya sang Boneka mesti diselamatkan.

Ada yang harus memotong ikatannya. Ada yang harus membawanya dari kotak kayu yang lembab dan lapuk ke dunia yang lebih luas. Ada yang harus menyadarkannya bahwa kini, dia bukan lagi boneka. Ada yang harus mensugestinya bahwa alam ini bebas untuknya. Sekalipun dirinya berdalih bahwa dia tidak dalam pengaruh apa-apa, karena bagaimanapun juga, penonton tahu. Penonton yang melihat.

Dan suatu saat ketika tabir teater kembali terbuka, tak ada lagi boneka yang dipermainkan sesukanya. Tak ada lagi kebohongan yang dipertunjukkannya. Yang ada hanya penyesalan dan kebimbangan. Apakah memperbaiki diri dan menjadi pengendali boneka yang menghibur? Atau justru tetap pada pendiriannya yang dipastikan cacat dalam rencana karena tak ada lagi penonton yang bakal terpedaya.

Percayalah!

Agustus 21, 2015 / rudolph30

EDENSOR Badminton Community Semakin Indonesia

CG5gTOAUQAApimO

Derasnya persaingan eksistensi antar komunitas bulutangkis ternyata mampu dilalui oleh Edensor Badminton Community yang berpusat di Makassar. Mengusung konsep bermain dan berteman, tak ayal menjadi sebuah galah panjang, bagaimana melontarkan dirinya ke depan agar tetap mampu terbit dan sejajar dengan komunitas bulutangkis yang sudah ada sebelumnya.

Lahir di sebuah lapangan kecil di pinggiran kota, pada pertengahan November di musim hujan, adalah sebuah keberuntungan. Layaknya sebuah benih yang tumbuh subur, rutin tersiram air Tuhan. Sebuah perumpamaan yang pantas, mengingat pesatnya komunitas ini menembus dominasi, menebar spora hingga seantero Makassar, khususnya di benak para pencinta Bulutangkis, seakan-akan mengisiki dan meracuni pikiran mereka. Dan menancapkan ke memori terkuat yang tak akan terlupakan bahwasanya, pada tanggal 14 November 2014, telah hadir sebuah komunitas bulutangkis yang siap menggebrak Indonesia. Edensor Badminton Community namanya.

Baru memasuki triwulan keempat saja, brankas penyimpanan arsip-arsip kegiatan Edensor telah membludak. Ada begitu banyak program yang telah berhasil terselenggara, baik bersifat formal maupun non-formal. Dan rencana-rencana kedepannya juga sudah mengantri untuk direalisasikan. Yang tentunya akan semakin menambah folder-folder utama, demi menampung segala riwayat pagelaran.

Berawal dari hanya sekedar intuisi, kemudian disokong oleh mufakat bersama dalam sebuah musyawarah dan dengan didorong korelasi yang baik adalah pemicu bagaimana Edensor padat dengan kekompakannya.

  • Dari yang hanya sekedar sparring

Morsmordre529

  • Pertandingan Intern yang saat ini telah memasuki session ketiga.

1907374_1046002065426171_5774483580683431129_n

  • KTT (Kumpul Teman Teman) yang saat ini telah memasuki part 15.

gh ftht

  • Edensor Modern Vacation

DSC_0136

  • Edensor Simplicity Holiday

C360_2015-08-16-13-05-02-244

  • Edensor Climbing

S__2064516

  • Edensor Road to Museum

20150614_170318

  • Edensor Road to Orphanage

DSC_2454

  • Edensor Road to Radio

11159977_641261459350767_9042772183879754112_n

  • Edensor Teaching

4643

  • Edensor Berdoa dan Berbagi

as35

Jpeg

  • Sampai melebar ke kancah Indonesia

Jadi yang live Indonesia Open dan Kejuaraan Dunia Bulutangkis pada tahun ini, pasti tidak asing lagi dengan hamparan spanduk yang dipakai buat corat-coret, seperti gambar ini:

11898516_10203462074071991_4120315810317689437_n

Dan diantara  coretan-coretan itu, ada yang begitu dominan terpampang

CG5gTOAUQAApimO

CM2Al00UwAA0uLk.jpg large

Ya inilah Edensor Badminton Community. Ingin menunjukkan dirinya yang semakin Indonesia. Dan mengajak kalian semua untuk bergabung bersama kami. Bukan hanya Makassar, tetapi Jakarta, Surabaya, Ambon, Palu, Pekanbaru, Kalimantan dan seluruh Nusantara, agar semakin memantapkan Edensor yang semakin Indonesia.

Jika ingin bergabung, silahkan kunjungi All About Edensor BC

Jika ingin melihat videonya, silahkan kunjungi Edensor Video

 

 

Agustus 4, 2015 / rudolph30

Serial CerBer Billie yang Tidak Kompatibel [Billie, bab: 06]

Waktu seakan dikacaukan. Entah apa yang terjadi, Billie telah berdiri di tengah jalan pada suatu sore yang begitu jingga. Billie tak tahu jalan dan daerah ini. Jalan panjang yang tak berliku. Tak ada kendaraan yang lewat. Lengang, sejauh mata memandang hanya aspal kosong, tak ada yang berlalu lalang. Ditepiannya, rerimbunan pohon dan semak belukar, tumbuh rapat bersatu padu. Membuyarkan pandangan. Tiada pemukiman terlihat, tiada aktivitas manusia sama sekali. Yang ada hanya ketenangan. Sepi yang teramat parah.

Setelah beberapa saat hanya celingak-celinguk berusaha mengenali daerah dimana ia berdiri sekarang, Billie memutuskan untuk menepikan diri di bibir jalan. Nampak was-was dan mulai mempertanyakan bagaimana bisa dirinya sampai di tempat ini. Berjalan pelan-pelan kemudian bersandar pada sebuah pohon besar, sembari matanya yang tak putus menerawang. Rasa ketakutan mulai memuncaki batinnya. Apalagi ketika jingga sore ini semakin memerah. Bumi seperti disinari oleh lampu kuning lima watt. Sebuah kontras warna yang sangat tidak asing di benak Billie. Ia akhirnya tahu tempat ini. Rona alam yang sangat persis dengan apa yang ada di foto. Daerah dimana Mary dan Karen terdistorsi oleh kamera terkutuk.

Billie refleks bangkit dari sandarannya, kemudian berbalik, menatap pohon yang disandarinya. Sontak semua tubuhnya terasa menggigil. Pohon inilah yang tampak di foto, dimana Mary dan Karen tersiksa dibawahnya.

“Mary!! Karen!!” Kalian dimana?” teriak Billie memecah keheningan. Menyorot kesegala penjuru. Mengesampingkan ketakutannya dan seakan-akan tidak mempertanyakan, bagaimana bisa dirinya bisa ada di tempat ini. “Mary!! Karen!!! Kalian dengar aku? Ayolah… Kalian dimana!!!?”

Tak ada respon apapun, justru teriakan-teriakan itu malah menambah keheningan. Billie menghentikan panggilannya. Perasaannya mendadak tidak enak. Sebuah firasat mengisiki bahwa ada yang baru saja terbangun tatkala terusik oleh teriakan. Dan jelas itu bukan Mary dan Karen.

Benar saja, tiba-tiba gerombolan burung yang bertengger di ranting-ranting pohon, serentak terbang berseliweran ke atas, seperti ada yang baru saja melintas dan mengganggu peristirahatannya. Detik berikutnya, muncul bunyi gemerisik dedaunan pohon. Ada yang berusaha keluar dari rerimbunan dengan sangat cepat. Jantung Billie berdetak kencang. Sesuatu itu semakin menghampirinya. Billie tersudut di batang pohon, tak berani berkedip dan panik bukan main. Semua inderanya berada di level sensitif karena rangsangan menakutkan datang dari segala arah. Aroma busuk, hembusan angin, suara-suara dan gerakan-gerakan aneh tak luput dari pantauannya. Termasuk ketika telinganya menangkap suara bahwa baru saja ada yang mendarat di dahan pohon tepat di atasnya. Belum sempurna Billie mendongak keatas, mendadak dengan sangat cepat sesosok wanita turun merayap, menghampiri wajahnya.

“AKKKKH!!!!!!”

Billie terbangun dari mimpinya dengan peluh bercucuran. Dadanya kembang kempis sembari memperhatikan sekitarnya. Tak ada lagi suasana jingga sore hari. Tak ada lagi jalan aspal panjang tak berujung. Tak ada lagi pohon, hutan dan rerimbunannya. Billie sudah terbebas dari tempat itu, tetapi nampaknya keadaan belum sepenuhnya baik. Billie masih berada di tempat yang asing. Tempat yang tidak disinari matahari, sebuah gua kecil dengan dinding-dindingnya seperti baru saja dibentuk dengan tangan.

“Bagus kalau kau sudah tersadar!” kata seorang perempuan dari arah belakang. Billie refleks berbalik dan didapatinya Dorothy dalam keadaan kumal luar biasa, seperti baru direndam dalam kolam lumpur. “Apa yang membuatmu berteriak?”

“Mana Joe!?” Billie mengalihkan. “Dimana ini? Dimana monster penggali itu?”

“Saya tidak tahu pasti dimana ini, intinya kita selamat.” jawab Dorothy.  ” Joe ada di luar, membersihkan dirinya. Kau pun harus begitu. Hmm kalau kau tanya dimana Ghoul sekarang, dia sedang menutup lubang tempat kita melarikan diri, tetapi__”

“Cukup, Dorohy!” potong Billie. Bangkit dan perlahan berjalan menuju lubang keluar. “Aku muak dengan pemikiranmu. Kau tidak begitu menolong! Kau tidak memberikan solusi, tapi memperparahnya!  ”

“Akan semakin parah ketika kau mendengar ini…” cetus Dorothy. Billie terhenti dan terjebak untk mendengarnya. “Salah seorang polisi sepertinya tahu tentang Ghoul dan dia cukup kuat untuk memerintahnya juga. Saya khawatir dia memaksa Ghoul untuk menunjukkan keberadaan kita sekarang.”

“Itu artinya sama saja dengan nol.” tegas Billie. “Tidakkah kau mengerti, Dorothy? Kami hanya butuh waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan dan mencari cara bagaimana mengembalikan Mary dan Karen. Itu saja! Bukan justru semakin terjepit karena kejaran beberapa orang yang kami tidak tahu mereka memihak atau tidak. Atau bahkan, kami tidak butuh ditimbun seperti ini.”

Billie melanjutkan langkahnya.

“Tunggu, Bil!” seru Dorothy. “Tidakkah kau mengingat, saya pernah mengatakan bahwa kamera dalam ranselmu adalah milikku?”

“Tidak ada pengaruhnya sama sekali. Kau boleh memilikinya hanya jika Mary dan Karen telah kembali. Namun untuk saat ini, saya tidak akan memberikannya padamu!” ketus Billie, mengepal tali ranselnya.

“Aku belum selesai cerita! Kau harus tahu sejarah kamera ini, karena jika tidak, kalian tidak akan menemukan jalan keluar. Ketahuilah kamera ini…” jeda Dorothy seraya menunjukkan kamera yang ternyata sejak tadi disembunyikan di belakangnya. Billie tercengang. melepas ransel dan mendapati kenyataan bahwa kamera itu tak lagi ada di dalamnya.

“Kembalikan, Dorothy!”
“Tenanglah, Bil! Dengarlah dulu ceritaku!” mohon Dorothy. Billie terdiam.

“Kamera ini adalah pemberian langsung dari penciptanya, Edwin Land. Dia memberikannya pada keluarga kami dan menjadi warisan turun temurun. Sampai pada akhirnya, kamera ini bertuah. Menjadi terkutuk karena ulah kakakku, Oscar. Entah apa yang ia lakukan. Dia dan pacarnya, Reeva, mengambil kamera ini dari rumah. Setelah itu kamera ini hilang hampir satu dekade lamanya. Oscar dan Reeva juga ikut menghilang. Dan atas bantuan cenayang, akhirnya kutemukan kamera ini. Tersimpan di museum kampus. Sayangnya, Oscar dan Reeva tidak berhasil kutemukan. Kata cenayang itu, Oscar telah meninggal, tetapi ketika kutanyakan tentang keberadaan Reeva, dia bergidik ketakutan. Dia tak mampu menjawab, dia hanya mengajariku bagaimana membudakkan Ghoul, katanya kelak Ghoul ini akan membantu menemukannya. Tetapi sampai saat ini, Ghoul itu sama sekali tak berguna. Dia hanya jadi alat untuk melarikan diri. Dia tak pernah menjawab apapun ketika aku bertanya tentang Reeva. Entahlah mungkin cenayang itu menipuku…” jelas Dorothy, memandangi kamera beberapa saat dengan penuh takjub kemudian mengopernya ke Billie.

“Ambillah. Carilah jalan sendiri bagaimana menyelamatkan Mary dan Karen. Setelah itu kembalikan lagi padaku!” kata Dorothy. Billie nampak canggung karena Dorothy yang sejak tadi ngotot meminta kamera ini, mendadak ikhlas memberikan. “Sorry, membuatmu dekil begini, tetapi setidaknya sekarang kalian punya waktu…”

“Dorothy…” sapa Billie. “Kau bilang kakakmu dan pacarnya hilang, kan? Apakah ada kemungkinan dia juga hilang seperti Mary dan Karen? Tersedot dalam kamera ini…”

“Entahlah…”

“Atau mungkin kakakmu masih hidup… Cenayang itu mungkin berbohong. Kakakmu hanya terdistorsi… Atau atau…” kata Billie nampak bersemangat. “si Monster Penggali itu mungkin tahu ketika kita menunjukkan kamera ini. Sudahkah kau memperlihatkannya?”

“Mungkin saja Billie… Saya juga sebenarnya baru tahu kalau kamera itu mempunyai kekuatan memindahkan orang yang dipotretnya dalam sekejap. Saya begitu bertanya-tanya, bagaimana bisa Oscar mengubah kamera itu menjadi sangat terkutuk. Mungkin Oscar dan Reeva tidak sengaja telah terpotret, hanya saja kita tidak menemukan dimana fotonya. Ngomong-ngomong… asal kau tau, Ghoul tidak pernah berbicara!”

“Oh iyakah?” Billie melongo. “Hmm… Kita coba saja tunjukkan kamera ini, siapa tau dia punya kenangan… Karena kita sama sekali tidak punya petunjuk. Panggil dia!”

“Saya pikir, kau ingin menyelesaikannya sendiri…” ejek Dorothy. Ada sedikit senyum dibibirnya. Senyum yang pertama kali Billie lihat semenjak mengenal Dorothy. “Baiklah. Akan kupanggil Ghoul itu kemari.”

Dan Dorothy kembali melakukan ritual pemanggilannya. Hantam tanah, menulis kata GHOUL diiringi deretan mantra-mantra yang keluar dari mulutnya. Beberapa detik kemudian, bumi-pun bergetar. Gemburan tanah pun muncul. Terasa begitu berguncang, memancing Joe yang sejak tadi ada diluar, kembali masuk. Menantikan momen-momen kemunculan Ghoul dari dalam tanah. Yang diawali dengan penampakan ujung sekop, tangan kerangkong lalu kepala dengan rambut tergulung. Hingga menyaksikan Ghoul itu merangkak naik dari atas tanah dengan jasad bayi bergelantungan di dadanya.

Disaat Ghoul telah berhasil menjejak tanah permukaan, mendadak Dorothy berteriak.

“Lari Billie!!! Joe!!!”

DORRRR!!!!

Terdengar suara tembakan yang menggema seisi gua. Sebuah peluru baru saja ditembakkan dari dalam lubang kemunculan Ghoul. Ternyata, ada orang lain yang ikut bersamanya. Dorothy benar. Ghoul sekarang punya dua tuan, ya…polisi itu. Ghoul berhasil membawanya kesini.

Billie, Joe dan Dorothy terdiam tak bisa melarikan diri. Terlalu naif berpikir bisa terhindar dari sasaran pistol polisi itu. Menyerah dalam kepanikan. Dan semua ketegangan yang terbilang cepat ini bertambah parah, ketika untuk pertama kalinya, Ghoul itu berbicara dengan suaranya yang parau sambil menatap ke arah Billie.

“Reeva…”

*Bersambung*